Berikut Kabar Baik dan Buruk Untuk Vaksin Sinopharm

Berikut Kabar Baik dan Buruk Untuk Vaksin Sinopharm – BBIBP-CorV adalah salah satu dari dua vaksin COVID-19 virus inaktivasi yang dikembangkan oleh Sinopharm. Pada Desember 2020, vaksin tersebut berada dalam pengujian Tahap III di Argentina, Bahrain, Mesir, Maroko, Pakistan, Peru, dan Uni Emirat Arab dengan lebih dari 60.000 partisipan.

Pada November, sekitar satu juta orang mendapatkan vaksin tersebut melalui program pemakaian darurat Tiongkok. Sejak dinyatakan masuk ke Indonesia pada Juni 2021 lalu, varian B.1.617.2 atau varian Delta telah mendominasi penularan COVID-19 di Indonesia. Termasuk ke dalam variant of concern (VoC), varian ini memang lebih menular dibanding varian mutasi virus corona SARS-CoV-2 lainnya.

Untuk itulah, pemerintah Indonesia semakin menggalakkan vaksinasi dengan harapan dapat mencapai kekebalan kelompok (herd immunity). Salah satu apk idn poker vaksin yang dipakai di Tanah Air adalah BBIBP-CorV dari Sinopharm. Sama seperti vaksin Sinovac, vaksin Sinopharm memakai platform virus yang dimatikan atau inactivated. Namun, riset gabungan terbaru membawa kabar baik dan buruk untuk vaksin Sinopharm.

1. Vaksin Sinopharm dipakai secara luas di Sri Lanka
Respons Antibodi Vaksin Sinopharm Lebih Lemah terhadap Varian Delta?

Di lansir Reuters, vaksin buatan Sinopharm memicu respons antibodi yang lebih lemah terhadap varian Delta. Hal ini di dasari studi pertama antara Sri Lanka dan Inggris pada 19 Juli 2021 mengenai efeknya pada varian yang lebih menular dari India tersebut.

Xinhua melaporkan bahwa Sinopharm adalah vaksin yang paling di gunakan di Sri Lanka saat ini. Sebanyak 4,63 juta rakyat Sri Lanka telah menerima dosis pertama, dan 1,29 juta telah menerima dosis kedua.

Di China sendiri, Sinopharm adalah salah satu vaksin COVID-19 yang paling sering di pakai. Dikenal dengan nama China National Pharmaceutical Group Corporation (CNPGC), Sinopharm setuju untuk memasok 170 juta dosis vaksin dalam skema COVAX hingga pertengahan 2022.

2. Serokonversi “sedikit” rendah pada golongan usia tua?
Respons Antibodi Vaksin Sinopharm Lebih Lemah terhadap Varian Delta?

Para peneliti dari University of Sri Jayewardenepura dan Colombo Municipal Council di Sri Lanka, serta University of Oxford di Inggris merekrut 282 relawan dari Sri Lanka untuk menerima dua dosis vaksin Sinopharm. Sekadar informasi, penelitian ini masih menunggu ulasan sejawat (peer review).

Bertajuk “Antibody and T cell responses to Sinopharm/BBIBP-CorV in naïve
and previously infected individuals in Sri Lanka”, penelitian ini mencatat bahwa dalam 6 minggu, vaksin Sinopharm memicu efek antibodi penghambat angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) pada 81,25 persen relawan.

Tingkat serokonversi vaksin Sinopharm mencapai 95 persen secara keseluruhan. Namun, penelitian yang di muat dalam jurnal medRxiv tersebut menyebutkan kalau tingkat serokonversi lebih rendah untuk kelompok usia 60 tahun ke atas (93,3persen) dan lebih tinggi untuk golongan 20-39 tahun (98,9 persen).

3. Penurunan antibodi pada varian lain, terutama Delta dan Beta?
Respons Antibodi Vaksin Sinopharm Lebih Lemah terhadap Varian Delta?

Meskipun tingkat serokonversi tinggi hingga di atas 90-an di golongan umur dewasa muda dan lansia, penelitian tersebut mencatat kalau tingkat antibodi mengalami penurunan terhadap beberapa varian Delta.

Secara spesifik, penelitian tersebut mencatat bahwa dalam 6 minggu terlihat:

  • 1,3 kali lipat pengurangan tingkat antibodi terhadap varian B.1.1.7 (Alpha)
  • 1,38 kali lipat pengurangan tingkat antibodi terhadap varian Delta
  • 10,01 kali lipat pengurangan tingkat antibodi terhadap B.1.351. (Beta)
4. Namun, tidak perlu takut, vaksin Sinopharm tetap dapat menangkal varian COVID-19
Respons Antibodi Vaksin Sinopharm Lebih Lemah terhadap Varian Delta?

Demi menangkal varian COVID-19, lebih baik tetap mendapat vaksinasi daripada tidak sama sekali. Lagi pula, penelitian ini belum selesai sampai situ.

Kabar baiknya, vaksin Sinopharm tetap memberikan perlindungan!  Reuters  mencatat bahwa para peneliti Sri Lanka dan Inggris mencatat tak ada perbedaan signifikan pada tingkat antibodi di serum darah para peserta yang di vaksinasi Sinopharm terhadap varian Delta dan Beta, di bandingkan dengan mereka yang memang terinfeksi.

“Sinopharm/BBIBP-CorV tampak memicu tingkat serokonversi yang tinggi dan tingkat respons antibodi yang serupa terhadap reseptor ACE2 pada B.1.617.2 dan B.1.351 seperti yang terlihat pada infeksi alami,” tutup penelitian tersebut.

Dengan kata lain, vaksin Sinopharm kemungkinan besar dapat memicu respons antibodi terhadap varian Delta dan Beta, mirip seperti yang terlihat pada para penyintas COVID-19 varian Delta dan Beta!

BPom menyebut efek samping vaksin Sinopharm bia di toleransi dengan baik. Frekuensi kejadian masing-masing efek samping adalah 0,01 persen atau terkategori sangat jarang.

Efek samping lokal ringan:

  • Rasa sakit
  • Kemerahan.

Efek samping samping sistemik (0,1 persen):

  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Diare
  • Batuk.